LINGGA, KEPULAUAN RIAU – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia selama ini kerap diasosiasikan...
LINGGA, KEPULAUAN RIAU – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia selama ini kerap diasosiasikan dengan kampus-kampus besar seperti UGM, IPB, dan ITB. Namun kini, inovasi serupa lahir dari daerah kepulauan. Seorang alumni Universitas Riau (UNRI) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Azrani Ery Saputra, berhasil mengembangkan AIquaVision, sebuah aplikasi asisten perikanan berbasis AI Vision yang dirancang untuk membantu petambak dan pembudidaya ikan serta udang dalam melakukan pendeteksian awal permasalahan di lapangan.
Aplikasi ini dikembangkan oleh putra jati melayu, yang berasal dari Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, dan merupakan lulusan UNRI program studi Budidaya Perairan. Melalui AIquaVision, ia ingin menjawab tantangan klasik dunia perikanan: keterbatasan akses laboratorium, minimnya tenaga ahli di daerah, serta lambatnya penanganan ketika terjadi penyakit atau penurunan kualitas lingkungan budidaya.
Solusi Teknologi untuk Masalah Lapangan
Dalam praktik budidaya, petambak sering menghadapi kondisi darurat seperti kematian ikan atau udang secara tiba-tiba, perubahan warna air, hingga gejala fisik pada organisme yang sulit dikenali secara kasat mata. Proses uji laboratorium yang memerlukan waktu dan biaya sering kali membuat penanganan terlambat.
AIquaVision hadir untuk mentriger sebagai alat bantu skrining awal, bukan sebagai pengganti uji klinis. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengambil foto objek yang bermasalah, mengunggahnya ke sistem, lalu menunggu hasil analisis dari teknologi AI Vision yang telah diprogram untuk membaca pola visual tertentu.
“Tujuan utama aplikasi ini adalah mem-bypass keterbatasan di lapangan. Petani Petambak bisa mendapatkan gambaran awal masalah yang mereka hadapi sebelum melangkah ke uji laboratorium,” ujar Azrani.
Cara Kerja yang Mudah dan Sederhana
Penggunaan AIquaVision dirancang sesederhana mungkin. Pengguna cukup: Memotret ikan, udang, atau kondisi kolam yang dicurigai bermasalah.
Lalu Mengunggah foto tersebut ke dalam aplikasi.Kemudian Menunggu proses analisis otomatis.Dan Menerima hasil deteksi awal beserta saran umum.Teknologi AI Vision yang digunakan mampu mengenali perbedaan warna, bentuk, tekstur, dan anomali visual lain yang sering menjadi indikator awal penyakit atau gangguan lingkungan.
Dukungan untuk Petambak Kecil
Menurut Azrani, sebagian besar petambak di daerah pesisir dan kepulauan masih mengandalkan pengalaman pribadi atau informasi terbatas dalam menangani masalah. AIquaVision diharapkan dapat menjadi asisten digital yang selalu siap membantu, khususnya bagi petambak kecil yang tidak memiliki akses cepat ke tenaga ahli.
Aplikasi ini juga membuka ruang partisipasi pengguna melalui kotak saran yang terhubung langsung ke pengembang. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan akurasi sistem.
AIquaVision dapat diakses melalui tautan berikut:
👉 https://aiquavision.aisah.cloud
Sementara panduan singkat penggunaan aplikasi dapat dilihat melalui video YouTube:
👉 https://youtu.be/o_DGnqWw4N4?si=4WAbZj-ru37LSkIW
Harapan ke Depan, Azrani berharap AIquaVision dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari transformasi digital sektor perikanan Indonesia. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan akademisi, pemerintah, dan komunitas perikanan untuk memperluas basis data dan meningkatkan kecerdasan sistem.
“Kami sadar tidak ada sistem yang sempurna. Karena itu, kritik dan saran dari pengguna sangat kami butuhkan agar aplikasi ini benar-benar bermanfaat bagi dunia perikanan,” tutupnya.
Dengan hadirnya AIquaVision, inovasi teknologi berbasis daerah kini mulai menunjukkan perannya dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan pelaku usaha perikanan di Indonesia. (Red)

