Gambar: Ramlan bersama kelompok Tani Pemuda Melayu Desa Pulau Cawan Inhil membangun lahan tidur secara mendiri Mandah, Indragiri Hilir – K...
Mandah, Indragiri Hilir – Ketika sebagian generasi muda memilih meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik di kota, Ramlan, seorang pemuda Melayu asal Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, justru mengambil jalan yang berbeda. Di tengah berbagai keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian terhadap wilayah pesisir, ia memilih tetap bertahan dan memperjuangkan kemajuan desanya.
Bagi Ramlan, membangun Desa Pulau Cawan bukan sekadar mimpi, melainkan tanggung jawab moral sebagai putra daerah. Perjuangan yang ia lakukan berfokus pada pengembangan tiga sektor utama yang diyakininya mampu menjadi fondasi kebangkitan ekonomi masyarakat, yaitu penyelamatan Pantai Solop dari abrasi, penguatan sektor perikanan melalui program Kampung Nelayan, serta optimalisasi lahan tidur menjadi kawasan pertanian produktif.
Menyelamatkan Pantai Solop dari Ancaman Abrasi
Menurut Ramlan, persoalan paling mendesak yang harus segera ditangani adalah abrasi yang terus menggerus bibir Pantai Solop. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, bukan hanya kawasan wisata yang akan hilang, tetapi juga perlindungan alami bagi wilayah pesisir dan mata pencaharian masyarakat.
"Pantai Solop adalah aset besar Desa Pulau Cawan. Abrasi yang terjadi setiap tahun harus segera dihentikan. Kami membutuhkan pembangunan tembok pemecah ombak atau sistem perlindungan pantai yang mampu mengurangi dampak gelombang laut. Ini bukan hanya untuk menjaga objek wisata, tetapi juga melindungi lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir," ujar Ramlan.
Ia menilai pembangunan tembok pemecah ombak (breakwater) menjadi langkah strategis yang harus segera diwujudkan melalui dukungan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Riau, maupun Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir.
Menurutnya, apabila perlindungan pantai dapat dilakukan sejak dini, Pantai Solop masih memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata bahari unggulan di Provinsi Riau.
Mendorong Desa Pulau Cawan Menjadi Kampung Nelayan
Selain penyelamatan kawasan pantai, Ramlan juga memiliki cita-cita menjadikan Desa Pulau Cawan sebagai Kampung Nelayan yang modern, produktif, dan berdaya saing.
Sebagian besar masyarakat desa menggantungkan hidup dari hasil laut. Namun hingga kini, para nelayan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sarana penangkapan ikan, akses permodalan, hingga minimnya fasilitas pengolahan hasil perikanan.
Ramlan berharap pemerintah dapat menghadirkan program pemberdayaan nelayan secara menyeluruh, seperti bantuan kapal dan alat tangkap yang ramah lingkungan, pembangunan tempat pelelangan ikan, cold storage, pelatihan pengolahan hasil laut, hingga kemudahan akses pembiayaan bagi kelompok nelayan.
"Potensi laut Pulau Cawan sangat besar. Yang dibutuhkan masyarakat adalah dukungan agar hasil laut memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan. Kami ingin nelayan tidak hanya bertahan hidup, tetapi mampu berkembang dan menjadi pelaku usaha yang mandiri," jelasnya.
Ia juga menilai bahwa pengembangan Kampung Nelayan akan membuka peluang baru bagi sektor wisata bahari, kuliner khas pesisir, serta usaha mikro masyarakat.
Menghidupkan Lahan Tidur Menjadi Sentra Pertanian
Program ketiga yang menjadi perhatian Ramlan adalah pemanfaatan lahan tidur yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Menurutnya, Desa Pulau Cawan masih memiliki kawasan yang berpotensi dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Ia mendorong adanya program pembukaan lahan, pembangunan sistem irigasi, bantuan bibit unggul, alat dan mesin pertanian, hingga pendampingan teknis kepada para petani.
Komoditas seperti kelapa hibrida, hortikultura, tanaman pangan, hingga tanaman perkebunan dinilai memiliki prospek yang baik apabila didukung dengan kebijakan yang tepat.
"Kami ingin lahan-lahan yang selama ini terbengkalai bisa menjadi sumber ekonomi baru. Jika pertanian berkembang, lapangan pekerjaan akan terbuka, masyarakat memiliki penghasilan tambahan, dan desa akan semakin mandiri," kata Ramlan.
Ia menambahkan bahwa sektor pertanian dapat berjalan berdampingan dengan sektor perikanan sehingga perekonomian desa tidak hanya bergantung pada satu sektor saja.
Membangun dari Desa untuk Masa Depan
Bagi Ramlan, pembangunan Desa Pulau Cawan harus dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki desa, mulai dari kekayaan laut, kawasan wisata Pantai Solop, hingga lahan pertanian.
Ia berharap pemerintah menjadikan wilayah pesisir Kecamatan Mandah sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah, mengingat besarnya potensi ekonomi yang dapat dikembangkan apabila didukung dengan infrastruktur yang memadai.
"Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin potensi yang dimiliki desa ini diberi kesempatan untuk berkembang. Jika Pantai Solop terlindungi dari abrasi, nelayan diperkuat, dan lahan tidur dihidupkan menjadi kawasan pertanian produktif, saya yakin Desa Pulau Cawan akan menjadi desa yang maju, mandiri, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya," tutup Ramlan.
Perjuangan Ramlan menjadi gambaran bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari proyek-proyek besar. Dengan kepedulian, visi yang jelas, dan semangat kolaborasi, seorang pemuda desa dapat menjadi penggerak perubahan. Kini harapan masyarakat tertuju pada hadirnya dukungan nyata dari pemerintah dan berbagai pihak agar gagasan tersebut dapat diwujudkan, sehingga Pantai Solop tetap lestari, nelayan semakin sejahtera, dan lahan-lahan yang selama ini terbengkalai berubah menjadi sumber kemakmuran bagi Desa Pulau Cawan. (Red)